Westerling adalah komandan Depot Speciale Troepen (DST), unit elite bentukan resmi Pemerintah Kolonial Belanda. Ia tidak bergerak sebagai individu liar, melainkan sebagai komandan dalam struktur formal. Ini berarti Westerling dan pasukannya telah mendapat mandate structural dari atasan. Selain itu, metode eksekusi massal “pembersihan kampung” yang terkenal sebagai Westerling’s method terbukti bahwa semua aksi yang dilakukannya: dilaporkan ke atasannya dan tindakan itu, tidak pernah dicegah oleh Panglima Tertinggi Belanda di Indonesia bagian Timur, bahkan di beberapa kasus tindakan Westerling dkk dianggap efektif. Ini menunjukkan pengetahuan dan persetujuan implisit dari struktur komando kolonial.
Adapun pribadi Westerling sebagai eksekutor Westerling memang pribadi brutal, tetapi kehadirannya menjawab kebutuhan strategis Belanda pada saat itu. Walau tetap ada unsur kepribadian Westerling yaitu arogansi dan petualangan kekuasaan memicu eskalasi kekejaman: antara lain legitimasi moral untuk “menghukum orang pribumi” dan melenyapkan alat kekuasaan negara (TNI) seperti yang dilakukannya di Jawa.
Tetapi kepentingan politik apakah Den Haag dengan peristiwa ini? Belanda sedang terdesak tekanan diplomatik internasional. Operasi cepat dan mematikan dianggap cara “efektif” untuk: menumpas gerilyawan pro-Republik, memulihkan citra bahwa Belanda masih punya “kontrol penuh”, dan pemerintah Belanda seperti disinggung sebelumnya, termasuk mengamankan posisi mereka dalam perundingan internasional (misalnya di forum PBB).
Dengan kata lain, kekejaman itu lahir dari kombinasi dua unsur: Kebijakan negara kolonial yang represif dan karakter individu yang menganggap kekerasan ekstrem sebagai solusi cepat.
Apa yang bisa kita petik dari peristiwa ini?: Peristiwa pembunuhan puluhan ribu jiwa di Sulawesi Selatan tidak dapat dipahami sebagai insiden personal Westerling. Tetapi kombinasi dari :
• produk krisis legitimasi kolonial setelah 1945,
• ditopang oleh doktrin rust en orde yang menghalalkan kekerasan,
• diperkuat oleh ketakutan Belanda kehilangan wilayah strategis di Indonesia bagian Timur.
Demikianlah, saya menulis catatan ini sebagai salah seorang anak korban kekejaman Westerling agar masyarakat khususnya pemeritah daerah di Sulawesi Selatan serta segenap masyarakat, berkenan selalu ikut mengenang peristiwa penting ini, karena pengorbanan rakyat Sulawesi Selatan yang telah gugur itu, menjadi salah satu andil bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Jakarta Desember 2025.
