PORTAL — Yayasan BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) hari ini memulai rangkaian kegiatan Pertemuan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Inklusi-BaKTI yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 15 hingga 19 Desember 2025 di Surabaya.
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menilai capaian program sekaligus merumuskan strategi keberlanjutan.
Acara dihadiri oleh enam mitra dari Parepare, Toraja, Kupang, Lombok, Ambon, dan Kendari, serta satu sub mitra dari Maros. Kehadiran seluruh mitra ini menunjukkan komitmen kuat terhadap implementasi program inklusi di Kawasan Timur Indonesia.
Acara Monev diawali dengan sesi pembukaan oleh Lusya Palulungan, Koordinator Program Inklusi-BaKTI. Ia menekankan pentingnya evaluasi bersama atas kinerja yang telah dicapai oleh mitra pelaksana selama periode program tahun 2025.
Direktur BaKTI, Yusran Laitupa, menyampaikan kabar baik mengenai keberlanjutan program. Ia menegaskan bahwa Program Inklusi-BaKTI untuk Fase Pertama telah sukses berakhir di penghujung tahun 2025 dan akan dilanjutkan dengan Fase Kedua yang dimulai pada awal tahun 2026 dan berjalan selama tiga tahun ke depan.
“BaKTI akan berupaya untuk membangun ekosistem yang kuat untuk para mitra di wilayah masing-masing,” ujar Yusran.
Pembangunan ekosistem ini diharapkan dapat menciptakan sinergi antar-mitra, memfasilitasi pertukaran pengetahuan, dan memastikan keberlanjutan inisiatif lokal secara mandiri.
Yusran juga mendengungkan kembali tiga isu utama yang akan tetap menjadi fokus dan komitmen kuat BaKTI pada Fase Kedua.
Isu Inklusi, memastikan partisipasi dan manfaat program dirasakan oleh semua kelompok masyarakat, tanpa terkecuali.
Isu GEDS (Gender Equality and Disability Social Inclusion), mendorong kesetaraan gender dan inklusi sosial bagi penyandang disabilitas.
Isu Climate Change, mengintegrasikan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam setiap intervensi program.
Yusran menambahkan bahwa keberlanjutan Fase Kedua akan tetap menerapkan praktik-praktik terbaik dan capaian-capaian yang telah dilakukan pada Fase Pertama, guna menjamin efektivitas dan dampak yang berkelanjutan di lapangan.
Pembukaan Monev hari ini menandai dimulainya rangkaian diskusi, presentasi capaian, dan sesi perencanaan yang intensif.
Ia berharap pertemuan ini akan menghasilkan rekomendasi strategis untuk memaksimalkan implementasi Program Inklusi-BaKTI pada fase berikutnya, demi mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif dan berketahanan iklim di Kawasan Timur Indonesia.
