PORTAL — Selama satu tahun pelaksanaan, sejak Januari hingga Desember 2025, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu Program Strategis Nasional menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan target. Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai dapur pelaksana MBG dilakukan secara bertahap dan telah menjangkau 38 provinsi di seluruh Indonesia. Capaian ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam meningkatkan kualitas generasi muda sebagai fondasi terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Oleh : Desi Ariyanti
(Pemerhati Ekonomi Masyarakat)
Tahun 2025 menjadi momentum penting dalam upaya pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berkualitas menuju Indonesia maju pada 2045. Pemerintah menegaskan bahwa pemenuhan gizi memiliki pengaruh langsung terhadap kualitas SDM. Asupan gizi yang memadai memungkinkan anak-anak Indonesia berkembang secara optimal, mampu belajar dengan baik, fokus, berprestasi, serta berkontribusi bagi masyarakat. Inilah hasil yang diharapkan dari implementasi program MBG.
Dalam pelaksanaannya, Badan Gizi Nasional (BGN) yang dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 menerbitkan petunjuk teknis penyelenggaraan MBG melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 244 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bantuan Pemerintah Program Makan Bergizi Gratis Tahun 2025. Juknis ini merupakan penyempurnaan ketiga yang disesuaikan dengan dinamika dan kebutuhan di lapangan.
Keputusan Kepala BGN tertanggal 27 Oktober 2025 tersebut menjadi acuan bagi pemerintah, mitra, dan seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan bantuan, pelaksanaan program, pertanggungjawaban, monitoring, evaluasi, serta pengawasan. Selain itu, juknis ini berfungsi sebagai pedoman percepatan pencapaian target pendirian SPPG di seluruh provinsi.
Atas arahan Presiden RI pada Juni 2025, target penerima manfaat MBG sebanyak 82,9 juta jiwa yang semula direncanakan tercapai pada 2029 dipercepat penyelesaiannya menjadi November 2025. Untuk memenuhi target tersebut, dibutuhkan sekitar 32.000 SPPG. Hingga Oktober 2025, pembangunan SPPG telah mencapai sekitar 12.000 unit.
Seiring perkembangannya, program MBG tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas SDM anak Indonesia, tetapi juga memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini terjadi karena pelaksanaan MBG melibatkan langsung berbagai elemen masyarakat.
Pihak-pihak yang diberdayakan antara lain UMKM, koperasi desa/kelurahan, BUMDes, pemasok bahan pangan, peternak, nelayan, serta masyarakat sekitar yang berperan sebagai relawan SPPG. Penerima manfaat program meliputi anak usia PAUD hingga SMA, balita di posyandu, ibu hamil, ibu menyusui, serta anak-anak stunting. Pemerintah pusat dan daerah turut berperan dalam monitoring, evaluasi, dan pengawasan agar program berjalan sesuai tujuan.
Beberapa dampak nyata dari multiplier effect MBG antara lain:
1. Peningkatan daya beli masyarakat
Setiap SPPG merekrut sekitar 50 relawan dari masyarakat sekitar dengan rentang usia 18–50 tahun. Program ini membuka peluang kerja bagi warga yang sebelumnya menganggur, bekerja serabutan, maupun lulusan baru, termasuk sebagai kepala dapur, ahli gizi, dan tenaga administrasi. Penghasilan tetap yang diperoleh relawan membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga daya beli masyarakat meningkat.
2. Peningkatan kesehatan
Manfaat kesehatan terlihat jelas pada penerima MBG. Anak sekolah menjadi lebih bersemangat makan bersama teman-temannya dan menikmati menu bergizi yang disediakan. Orang tua pun merasakan perubahan positif pada kebiasaan makan anak. Selain itu, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak stunting mendapatkan layanan konsultasi gizi langsung dari ahli gizi di SPPG, sehingga risiko gizi buruk dan stunting dapat ditekan.
3. Perbaikan kualitas pendidikan
Pemenuhan gizi melalui MBG berdampak pada meningkatnya konsentrasi, kehadiran, motivasi, dan kemampuan belajar anak di sekolah. Hal ini mendukung perkembangan kecerdasan intelektual, sosial, dan emosional. Pemerintah dan para pakar menilai MBG sebagai investasi jangka panjang bagi peningkatan mutu pendidikan dan kualitas SDM Indonesia.
4. Penguatan kebutuhan dan ketahanan pangan
MBG menciptakan permintaan pangan yang stabil dan berkelanjutan, mendorong ketersediaan beras, sayur, buah, telur, ikan, dan protein lainnya. Bahan pangan diprioritaskan dari produsen lokal sehingga memperkuat sistem pangan daerah, memperbaiki distribusi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang.
Program MBG turut mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan domestik. Kebutuhan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan menggerakkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta distribusi pangan. Dalam satu SPPG, kebutuhan beras bisa mencapai sekitar 1,5 ton per bulan dan ayam sekitar 6.500 ekor per bulan, yang sebagian besar dipenuhi dari pemasok lokal.
Peningkatan aktivitas ini membuka lapangan kerja baru di sepanjang rantai pasok dan memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat. Selain itu, pemenuhan gizi yang lebih baik meningkatkan kesehatan, produktivitas, dan daya saing tenaga kerja. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat kualitas SDM nasional.
Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berfungsi sebagai program kesejahteraan sosial, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketimpangan, menekan kemiskinan dan pengangguran, serta meningkatkan produktivitas kerja masyarakat.
