Pesantren Kilat Ramadan Dibuka, Warga Binaan Lapas Parepare Didorong Berubah Lebih Baik

PORTAL — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Parepare resmi membuka kegiatan pesantren kilat dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan kepribadian bagi seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Kepala Lapas Parepare, Marten, yang diwakili Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Bimnadik), Zainal Fanani, menyampaikan bahwa pesantren kilat diikuti oleh seluruh warga binaan tanpa terkecuali.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antar warga binaan serta antara petugas dan WBP.

“Kami, petugas Lapas Parepare bersama seluruh warga binaan, penuh semangat menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Momentum ini kami jadikan sebagai sarana memperbaiki diri dan memperkuat nilai-nilai spiritual,” ujar Zainal.

Ia menegaskan, Ramadan harus menjadi titik balik perubahan pola pikir warga binaan. Melalui pesantren kilat, pihaknya ingin menanamkan nilai-nilai kesabaran, rasa syukur, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan, khususnya selama berada di dalam lapas.

“Di bulan suci ini, kami berharap warga binaan dapat menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih ikhlas. Ramadan adalah bulan penuh ampunan, penuh rahmat, dan penuh pahala. Ini kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri,” tambahnya.

Kegiatan pesantren kilat tersebut akan diisi dengan berbagai aktivitas keagamaan, seperti tadarus Al-Qur’an, ceramah agama, kajian keislaman, serta pembinaan akhlak.

Selain pembukaan pesantren kilat, Lapas Parepare juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba dalam rangka menyambut Ramadan. Adapun perlombaan yang digelar meliputi lomba azan, kultum, dan tahfidz Al-Qur’an.

Penyerahan hadiah tersebut menjadi bentuk apresiasi atas semangat dan partisipasi aktif warga binaan dalam kegiatan keagamaan.

“Kita harapkan rangkaian kegiatan Ramadan ini mampu membangun suasana religius yang kondusif di dalam lapas serta menjadi bekal positif bagi warga binaan saat kembali ke tengah masyarakat,” ungkapnya.