PORTAL — Yayasan Lembaga Pengkajian Pengembangan Ekonomi dan Masyarakat (YLP2EM) sebagai mitra BaKTI dalam Program INKLUSI menggelar Diskusi Kampung di sejumlah kelurahan di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Kegiatan tersebut berlangsung selama 12 hari, mulai 14 hingga 25 September 2026, dengan menyasar 15 kelurahan di Kota Parepare.
Diskusi Kampung menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di lingkungannya.
Sejumlah isu menjadi perhatian, mulai dari pendampingan dan penanganan kasus, advokasi kebijakan di tingkat kelurahan, partisipasi politik, hingga persoalan perubahan iklim.
Koordinator Program YLP2EM, Abd. Samad, mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan sosial yang masih ditemukan di tengah masyarakat, termasuk akses terhadap bantuan sosial maupun bantuan subsidi lainnya.
Menurut Samad, keberadaan fasilitator di tingkat kelurahan diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam menjaring informasi sekaligus membantu menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan pihak terkait.
“Melalui Diskusi Kampung ini, kami ingin mengetahui langsung persoalan yang ada di masyarakat, termasuk keluhan terkait kondisi di lingkungan mereka,” kata Samad.
Ia menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah memastikan kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan lanjut usia, dapat terdata dengan baik dan memperoleh akses terhadap program bantuan yang sesuai.
“Misalnya, apakah masih ada penyandang disabilitas yang belum terpantau atau lansia yang membutuhkan bantuan sosial. Hal-hal seperti ini yang ingin kita identifikasi sehingga nantinya tersedia basis data yang lebih baik,” jelasnya.
Menurut Samad, data yang diperoleh dari tingkat masyarakat penting sebagai dasar untuk mendorong pendampingan maupun advokasi. Dengan begitu, persoalan warga tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kewenangan masing-masing pihak.
Diskusi Kampung juga diharapkan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan di tingkat kelurahan. Warga didorong lebih aktif menyampaikan kebutuhan, persoalan, maupun aspirasi yang berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.
Sementara itu, Sekretaris Lurah Ujung Sabbang, Andi Jammerro, mengapresiasi pelaksanaan Diskusi Kampung. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu pemerintah kelurahan dalam memberikan edukasi sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat.
“Kegiatan ini sangat membantu kami dalam mengedukasi masyarakat, terutama bagaimana bersama-sama mengatasi berbagai persoalan yang ada di lingkungan masyarakat,” ujar Andi Jammerro.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah kelurahan, masyarakat, fasilitator, dan organisasi pendamping diperlukan agar persoalan di tingkat bawah dapat lebih cepat teridentifikasi.
“Kami dari pemerintah kelurahan sangat mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya, komunikasi dan sinergi seperti ini terus berjalan sehingga kebutuhan maupun persoalan masyarakat dapat diketahui dan ditindaklanjuti bersama,” tambahnya.
