PORTAL — Upaya mempercepat penurunan angka stunting terus dilakukan di Kota Parepare. Penyuluh Keluarga Berencana (KB) Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki, menggelar Sosialisasi dan Advokasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Lemoe itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kelurahan, Tim Pendamping Keluarga (TPK), ketua RT dan RW, Bhabinkamtibmas, hingga perwakilan keluarga berisiko stunting (KRS).
Penyuluh KB Kelurahan Lemoe, Baharia Tahir, menjelaskan GENTING merupakan gerakan nasional yang diluncurkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN pada 5 Desember 2024.
Gerakan tersebut mendorong keterlibatan berbagai pihak, baik individu, dunia usaha, komunitas maupun pemerintah daerah, untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga yang berisiko stunting.
“GENTING ini bukan program yang menggunakan APBN, tapi gerakan gotong royong. Sesuai arahan Menteri Wihaji, masyarakat bisa terlibat langsung menjadi orang tua asuh. Bantuannya bisa berupa nutrisi, non-nutrisi, akses air bersih, atau edukasi,” jelas Baharia.
Menurutnya, sasaran utama gerakan tersebut meliputi ibu hamil, ibu menyusui, anak usia 0–23 bulan atau baduta, serta balita usia 24-59 bulan yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Baharia mengatakan, pihaknya telah mendata sejumlah keluarga berisiko stunting di Kelurahan Lemoe yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
“Di Kelurahan Lemoe, kami mendata ada beberapa keluarga KRS yang butuh perhatian khusus. Melalui GENTING, kita harapkan kebutuhan nutrisi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan bisa terpenuhi dengan bantuan para donatur orang tua asuh,” katanya.
Sementara itu, Lurah Lemoe mengapresiasi sosialisasi dan advokasi tersebut. Menurutnya, upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Kami Pemerintah Kelurahan Lemoe siap mendukung penuh program GENTING. Kami akan menggerakkan RT/RW dan para pengusaha lokal di Lemoe untuk menjadi orang tua asuh. Anak Lemoe harus sehat, cerdas, dan bebas stunting,” tegasnya.
Melalui sosialisasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya intervensi sejak masa kehamilan hingga periode awal tumbuh kembang anak, terutama bagi keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.
Kegiatan kemudian ditutup dengan komitmen bersama serta pendataan calon orang tua asuh dari unsur tokoh masyarakat dan kader yang hadir.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong di tingkat kelurahan sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam mendukung keluarga berisiko stunting di Lemoe.
