LUWU RAYA, Portalinsiden.com — Kemacetan panjang yang melumpuhkan arus lalu lintas di sejumlah titik wilayah Luwu Raya dinilai telah berkembang menjadi bencana kemanusiaan bagi para pengguna jalan.
Kondisi tersebut mendapat sorotan serius dari Saldi Kaso, Mantan Ketua Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (PB IPMIL Raya).
Saldi menegaskan, gelombang unjuk rasa yang kian semakin memuncak saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan teknis lalu lintas semata.
Menurutnya, lumpuhnya arus lalu lintas di berbagai titik lingkup Luwu Raya ini sudah berdampak langsung terhadap keselamatan dan kelangsungan hidup masyarakat yang terjebak macet selama unjuk rasa berlangsung.
“Kondisi hari ini sudah masuk kategori bencana kemanusiaan. Pengguna jalan terjebak kemacetan dalam waktu lama, kelelahan, kekurangan makan, minum, bahkan kebutuhan dasar lainnya. Ini wajib menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” ujar Saldi, Selasa (27/01/2026).
Olehnya itu, ia meminta agar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di semua wilayah lingkup Luwu Raya segera turun tangan dan mengambil langkah tanggap darurat. Termasuk dengan menggelontorkan anggaran penanganan bencana untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Bantuan darurat, kata Saldi, harus difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pokok. Seperti halnya makanan, minuman, pakaian, serta kebutuhan mendesak lainnya, utamanya bagi kelompok rentan yakni anak-anak, ibu hamil dan lansia.
“BPBD itu dibentuk untuk menangani kondisi darurat yang mengancam keselamatan manusia. Maka ketika masyarakat terjebak tanpa kepastian di jalan, pemerintah tidak boleh abai. Anggaran bencana harus digunakan untuk rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, saldi juga mendorong adanya koordinasi lintas daerah di Luwu Raya, mengingat dampak kemacetan tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga pengguna jalan antarwilayah dan antarprovinsi.
Ia pun berharap, pemerintah daerah segera menetapkan status tanggap darurat tersebut secara proporsional, agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat, terukur dan tepat sasaran.
“Jangan tunggu ada korban jiwa baru bergerak. Negara harus hadir saat rakyatnya kesulitan, sekecil apa pun itu,” tutupnya.(Ewn)
