RS dr. Hasri Ainun Habibie Parepare Perkuat Layanan Lewat Forum Konsultasi Publik

Terlebih, rumah sakit tersebut memiliki peran sebagai rumah sakit regional dan menjadi salah satu pusat rujukan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan bagian utara.

“Banyak masukan yang masuk, baik dari kami sebagai wakil rakyat maupun dari masyarakat umum. Tentunya bagaimana caranya agar sebagai rumah sakit regional dan pusat rujukan di Sulawesi Selatan bagian utara, harus ada peningkatan, baik dari fasilitas maupun pelayanan,” ujar Sappe.

Menurutnya, salah satu persoalan yang masih perlu diselesaikan adalah keterbatasan dokter spesialis. Sebagian tenaga dokter masih didatangkan dari luar daerah dengan sistem kontrak.

Sappe menilai ketersediaan fasilitas pendukung dapat menjadi salah satu faktor untuk menarik dokter spesialis bergabung dan memberikan pelayanan secara berkelanjutan di RS HAH Parepare.

Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian yakni penyediaan rumah dinas yang memadai bagi dokter spesialis.

“Dokter spesialis mungkin masih berpikir untuk masuk di Rumah Sakit Hasri Ainun Habibie karena minimnya fasilitas, khususnya rumah dinas yang seharusnya sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar peningkatan pelayanan rumah sakit tidak semata-mata berorientasi pada pemenuhan administrasi. Keselamatan dan kepentingan pasien, kata dia, harus ditempatkan sebagai prioritas.

“Selalu mengedepankan keselamatan pasien. Administrasi boleh ditunda atau kelengkapannya masih bisa ditunggu, tetapi untuk keselamatan pasien tidak perlu ditunda,” tegas Sappe.

Forum Konsultasi Publik tersebut juga memaparkan rekapitulasi jumlah pasien sepanjang 2025 dan periode Januari hingga Juli 2026, meliputi pelayanan rawat inap, rawat jalan, serta observasi IGD.

Berdasarkan data hingga Juli 2026, tercatat 22.901 pasien BPJS telah mendapatkan pelayanan di RS dr. Hasri Ainun Habibie Parepare.

Jumlah tersebut terdiri atas 5.390 pasien rawat inap, 17.354 pasien rawat jalan, dan 157 pasien observasi IGD. Data itu menunjukkan pelayanan rawat jalan menjadi layanan dengan jumlah pasien BPJS terbesar.

Selain berdasarkan penjamin, rumah sakit juga memaparkan data pasien berdasarkan asal daerah. Hingga Juli 2026 tercatat 8.231 pasien berasal dari dalam kota dan 16.719 pasien dari luar kota.

Pada pelayanan rawat inap, terdapat 2.083 pasien dari dalam kota dan 3.419 pasien dari luar kota. Sementara rawat jalan tercatat 5.763 pasien dalam kota dan 12.510 pasien luar kota.

Untuk kategori observasi IGD, tercatat 385 pasien berasal dari dalam kota dan 790 pasien dari luar kota.

Tingginya jumlah pasien luar daerah memperlihatkan pelayanan RS dr. Hasri Ainun Habibie tidak hanya dimanfaatkan masyarakat Parepare, tetapi juga menjadi tujuan masyarakat dari sejumlah daerah di sekitarnya.

Selain peserta BPJS, RS dr. Hasri Ainun Habibie juga memberikan pelayanan kepada pasien umum serta pasien dengan sejumlah skema penjaminan dan asuransi lainnya.

Hingga Juli 2026, jumlah pasien umum tercatat 993 orang, terdiri atas 87 pasien rawat inap, 791 pasien rawat jalan, dan 115 pasien observasi IGD.

Sementara pasien dengan penjamin Jasa Raharja tercatat 48 orang, Inhealth 49 orang, JKN TK 24 orang, FIF Astra 2 orang, Garda Medika 3 orang, BRI Life 13 orang, dan Pertamina 3 orang.

Melalui skema PKS, tercatat sebanyak 901 pasien yang seluruhnya berada pada kategori observasi IGD.

Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 jumlah pasien BPJS yang mendapatkan pelayanan di RS dr. Hasri Ainun Habibie mencapai 27.364 pasien, terdiri atas 8.559 pasien rawat inap, 18.552 pasien rawat jalan, dan 253 pasien observasi IGD.

Pada periode yang sama, data berdasarkan alamat mencatat 12.542 pasien berasal dari dalam kota dan 19.751 pasien dari luar kota. Sedangkan pasien umum sepanjang 2025 mencapai 3.702 orang.