PDM Muhammadiyah Pangkep Gelar Tabligh Akbar Refleksi Awal Tahun 2026 dan Lantik Pengurus KMM Periode 2026–2029

 

Pangkep – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pangkajene dan Kepulauan menggelar Tabligh Akbar Refleksi Awal Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kabupaten Pangkep Periode 2026–2029. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam), Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Tumampua, Kecamatan Pangkajene, pada Sabtu (14 Rajab 1447 H / 03 Januari 2026 M).

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Qari Misbahuddin, S.Pd.I, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pangkajene dan Kepulauan Nomor: 03/KEP/III.0/D/2026 tentang penetapan Pengurus Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kabupaten Pangkep Periode 2026–2029. Surat keputusan tersebut dibacakan oleh Sekretaris PDM Usman Amin, S.E.

Prosesi pelantikan Pengurus KMM Kabupaten Pangkep dilakukan oleh Yahya Arif, S.Pd., M.Pd, perwakilan pimpinan bidang terkait yang mewakili Ketua PDM. Kegiatan ini dihadiri dan disaksikan oleh perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, jajaran pimpinan dan anggota PDM, pengurus majelis dan lembaga PDM, pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah se-Kabupaten Pangkep, unsur Ortom, pimpinan amal usaha, serta warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Ketua KMM Kabupaten Pangkep yang baru dilantik, Husain Mustafa, S.Th.I, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tugas dakwah amar makruf nahi mungkar harus dilaksanakan secara terorganisir dan melalui kerja kolektif.

“Tidak cukup jika dakwah hanya dilakukan secara perorangan, terlebih di tengah tantangan zaman Revolusi Industri 4.0, di mana manusia tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui berbagai media sosial,” tegasnya.

Dalam tausiyah Tabligh Akbar, Wakil Ketua PWM Sulawesi Selatan Prof. Dr. H. Abd. Qadir Gassing HT, M.S., memaparkan bahwa Islam sebagai way of life bermakna ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah menjadi pedoman seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari spiritual, sosial, ekonomi hingga politik, demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat (rahmatan lil ‘alamin).

Ia menjelaskan bahwa ajaran Islam mencakup tiga landasan utama, yakni akidah (keyakinan), syariah (aturan), dan akhlak (moral), yang membimbing umat Islam dalam setiap tindakan dan interaksi sehingga membentuk sistem hidup yang universal dan utuh.

Lebih lanjut, ditegaskan empat dimensi ajaran Islam, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah. Seorang muballigh, menurutnya, harus memiliki akidah yang lurus, ibadah yang mantap, akhlak yang baik, serta muamalah yang benar. Ia juga mengingatkan pentingnya menjauhi bahaya syirik, termasuk penyakit TBC (tahayul, bid’ah, dan khurafat. (Hasra)