PORTAL — Di momen Halal Bi Halal yang lekat dengan tradisi saling memaafkan, keluarga besar almarhum H. Usman Balo berkumpul dalam suasana yang tak sekadar hangat, tetapi juga sarat makna.
Jabat tangan yang saling menguatkan, pelukan yang menghapus jarak, dan senyum yang merekatkan kembali hubungan, semuanya menjadi pintu masuk untuk merawat sesuatu yang lebih dalam: warisan nilai seorang pejuang.
Di antara wajah-wajah yang sebagian telah beruban dan yang lain masih belia, cerita tentang satu nama terus hidup, H. Usman Balo.
Halal Bi Halal ini bukan sekadar rutinitas pasca Idulfitri, melainkan ruang pulang bagi kenangan, tempat nilai dan rasa saling memiliki dipertemukan kembali.
Di sanalah, kisah tentang seorang pejuang dihidupkan bukan melalui catatan sejarah, tetapi lewat tutur sederhana, sikap sehari-hari, dan keteladanan yang diwariskan lintas generasi.
Usman Balo, yang lahir dari tanah Bugis di Sidrap sekitar tahun 1918, tumbuh dari kesederhanaan hingga menjelma menjadi sosok yang teguh memegang prinsip. Ia dikenal berani, tidak mudah goyah, dan mampu berdiri di atas keyakinannya bahkan ketika keadaan menuntut pilihan yang tidak mudah.
Bagi keluarga, ia bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah sumber nilai yang terus mengalir tentang keberanian mengambil sikap, tentang keteguhan dalam prinsip, dan tentang arti menjaga kebersamaan.
Cerita-cerita itu mengalir pelan di antara percakapan. Dari yang tua kepada yang muda, dari ingatan menjadi pelajaran. Ada yang mendengarkan dengan mata berbinar, ada pula yang mengangguk pelan seolah meneguhkan kembali bahwa warisan sejati bukanlah nama besar, melainkan nilai yang terus dijaga.
Sekretaris Daerah Kota Parepare yang juga menantu H. Usman Balo, Amarun Agung Hamka, yang turut hadir, mengingatkan bahwa nilai tidak akan hidup tanpa kesadaran untuk merawatnya.
“Warisan terbesar dari seorang tokoh bukan hanya cerita, tetapi nilai. Dan nilai itu hanya akan hidup jika kita menjaganya bersama,” tuturnya.
Kalimat itu seolah menyatu dengan suasana Halal Bi Halal yang berlangsung hangat. Sebab yang tampak hari itu bukan hanya pertemuan keluarga, tetapi juga ikhtiar untuk tetap terhubung dalam rasa, dalam ingatan, dan dalam nilai.
“Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa ada hal-hal yang tak boleh ikut pudar yakni keteguhan, keberanian, dan kebersamaan,” tutur pria berkacamata, suami Ananda Febriani G Usman Balo ini.
“Hari itu mungkin berakhir seperti hari-hari lainnya. Namun, sesuatu tetap tinggal sebuah keyakinan bahwa selama nilai itu terus dijaga, maka Usman Balo tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam sikap, dalam pilihan, dan dalam cara keluarga besar kami yang saling menguatkan,” tambah Hamka, sapaan karib dia.
