PORTAL — Yayasan Lembaga Pengkajian Pengembangan Ekonomi dan Masyarakat (YLP2EM) sebagai mitra BaKTI dalam Program INKLUSI menggelar kegiatan penguatan kelompok konstituen (KK) Bersahaja di Kelurahan Ujung Bulu, Kota Parepare.
Kegiatan tersebut membahas penyediaan layanan komunitas, mulai dari penanganan kekerasan, perlindungan sosial, advokasi kebijakan, partisipasi politik, hingga isu perubahan iklim.
Salah seorang anggota KK Bersahaja, Erni Rahmat, mengaku termotivasi menjadi bagian program inklusi karena dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi maupun keluhan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
“Saya kader sosial, ini menjadi wadah bagi kami untuk menyampaikan aspirasi atau keluhan masyarakat sehingga lebih cepat tertangani,” ujar Erni, Kamis (23/4/2026).
Menurut Erni, keterlibatan masyarakat dalam advokasi kebijakan sangat penting agar persoalan yang selama ini tidak terselesaikan dapat segera mendapatkan perhatian.
“Selama ini banyak kasus yang ngambang. Dengan kehadiran kami di bawah bimbingan Program INKLUSI ini, sekarang kami prioritaskan membantu mereka yang membutuhkan pendampingan,” katanya.
Ia juga menilai komunitas memiliki peran besar dalam menghadapi isu perubahan iklim, salah satunya melalui edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat serta mendorong kebiasaan menjaga lingkungan.
“Mulai dari hal sederhana seperti memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menanam pohon di sekitar rumah. Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya akan besar,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Program YLP2EM, Abd. Samad, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut setelah pembentukan Kelompok Konstituen di wilayah tersebut.
Menurutnya, anggota kelompok merupakan warga terpilih yang memiliki jiwa sosial dan kepedulian tinggi dalam membantu masyarakat, baik terkait perlindungan sosial maupun pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Jadi setelah pembentukan, kita lakukan penguatan kepada kelompok konstituen,” ujar Abd. Samad.
Ia menjelaskan, tujuan penguatan ini adalah meningkatkan kapasitas anggota kelompok agar mampu memahami persoalan sosial di masyarakat, melakukan pendampingan, menyampaikan aspirasi warga, serta menjalin koordinasi dengan pemerintah dan pihak terkait.
Selain itu, kelompok konstituen juga diharapkan mampu menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah dalam mendorong lahirnya kebijakan yang inklusif dan berpihak kepada kelompok rentan.
“Bagaimana KK bisa berkoordinasi dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya dengan menghadirkan kebijakan yang inklusif,” jelasnya.
Abd. Samad menambahkan, isu perubahan iklim dimasukkan dalam agenda penguatan karena kelompok rentan sering menjadi pihak yang paling terdampak saat terjadi bencana.
“Ketika terjadi bencana, siapa yang rentan terdampak? Itu perempuan, anak, dan disabilitas,” katanya.
Karena itu, pihaknya juga terus mendorong edukasi kepada masyarakat agar menghidupkan ruang terbuka hijau di pekarangan rumah, menanam bunga maupun pohon, serta memperbaiki pengelolaan sampah rumah tangga.
Ia menegaskan, pemerintah sebenarnya telah membuka ruang partisipasi masyarakat melalui forum Musrenbang maupun reses DPRD.
“Sehingga ada keterlibatan kita semua secara inklusif dalam pembangunan daerah,” tutupnya.
Sementara Sekretaris Lurah Ujung Bulu yang membuka kegiatan berharap seluruh program yang telah disepakati bersama dapat terus dijalankan secara berkelanjutan demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
