UMPAR Jadi Kampus Swasta Percontohan Program Inklusi

PORTAL — Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) menjadi perguruan tinggi swasta percontohan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mendapat pendampingan BaKTI melalui Program INKLUSI dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Sementara untuk perguruan tinggi negeri, Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi kampus percontohan dalam program tersebut.

Sebagai bagian dari pendampingan itu, UMPAR mulai menyusun panduan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, Rabu (19/8/2026).

Penyusunan panduan dibahas dalam kegiatan bersama Yayasan Lembaga Pengkajian Pengembangan Ekonomi dan Masyarakat (YLP2EM) melalui Program INKLUSI-BaKTI yang berlangsung di salah satu kafe di Kota Parepare.

Kegiatan dibuka Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMPAR, Dr. Aksa, dan dihadiri Direktur YLP2EM Ibrahim Fattah, Koordinator Program YLP2EM Abd. Samad, pengurus Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), LPPM UMPAR, serta tim Program INKLUSI.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMPAR, Dr. Aksa, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, penyusunan panduan menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman seluruh sivitas akademika terkait pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus.

Aksa mengatakan, UMPAR memiliki Fakultas Hukum dan materi terkait pencegahan kekerasan juga telah menjadi bagian dalam kurikulum. Namun, sosialisasinya masih perlu diperluas agar dapat menjangkau seluruh mahasiswa.

“Ini juga sudah masuk dalam kurikulum kita, namun memang perlu kita sosialisasikan ke depannya dalam bentuk buku ke setiap mahasiswa baru. Itu menandakan bahwa hal tersebut bisa kita masifkan,” kata Aksa.

Ia berharap buku panduan yang nantinya dihasilkan dapat memuat standar yang jelas dan dipahami bersama sehingga menjadi rujukan bagi seluruh unsur kampus.

“Semoga melalui pembuatan buku panduan yang bagus, ada standar-standar yang bisa kita pahami bersama dan menjadi acuan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus,” ujarnya.

Pendampingan tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi UMPAR sebagai perguruan tinggi yang memiliki komitmen dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.

UMPAR sebagai kampus swasta percontohan di Kawasan Timur Indonesia didorong untuk memiliki sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Kita ingin menjadikan UMPAR Parepare sebagai kampus yang mendukung pencegahan dan penanganan kekerasan. Isu kekerasan merupakan isu serius yang perlu mendapat perhatian,” ungkap Koordinator Program YLP2EM, Abd. Samad.

Menurutnya, Satgas PPKPT UMPAR turut mendapat pendampingan dalam proses penyusunan panduan sebagai bagian dari upaya membangun sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang lebih terstruktur.

“Satgas PPKPT UMPAR didampingi dalam menyusun panduan sebagai bagian dari upaya menciptakan perguruan tinggi yang aman dan inklusif, sekaligus memiliki mekanisme pencegahan serta penanganan kekerasan yang sistematis, berperspektif korban dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Pendampingan juga dilakukan melalui fasilitasi penyusunan draf panduan, pengintegrasian konsep inklusi ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta peninjauan SOP pencegahan agar tetap relevan dengan regulasi dan pengalaman penerapannya di lapangan.

Panduan yang tengah disiapkan dirancang cukup komprehensif. Materinya mencakup pengertian kekerasan, dasar hukum, alasan kekerasan harus ditolak, serta berbagai langkah pencegahan melalui sosialisasi dan edukasi.