Peneliti UMPAR Kembangkan Beton Pasir dan Air Laut

PORTAL — Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) mengembangkan prototipe beton berbahan pasir laut dan air laut untuk mendukung pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir dan pulau terisolir.

Penelitian yang dipimpin Adnan, tersebut memadukan teknologi Fiber Self-Compacting Concrete (SCC) dengan pemanfaatan material lokal. Pengembangannya diarahkan untuk menjawab tingginya biaya distribusi bahan konstruksi, keterbatasan air tawar, serta tantangan ketahanan beton di lingkungan maritim.

Adnan mengatakan, gagasan penelitian berangkat dari kendala pembangunan di wilayah kepulauan yang masih bergantung pada pengiriman material dari daratan.

“Indonesia negara kepulauan terbesar, tapi pembangunan pesisir macet karena harus kirim pasir dan air tawar dari jauh. Kami balik logikanya: kenapa tidak pakai pasir laut dan air laut yang ada di depan mata?” kata Adnan.

Dalam penelitian terapan dengan roadmap 2025-2026 itu, tim melakukan riset material di laboratorium serta analisis mikrostruktur. Pengambilan material laut juga dilakukan di Bojo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pada 8 Juni 2025.

Teknologi SCC memungkinkan beton mengalir dan memadat sendiri tanpa bantuan alat penggetar atau vibrator. Sementara itu, penambahan serat ditujukan untuk meningkatkan kekuatan tarik, kemampuan beton menahan deformasi, dan ketahanan terhadap retak.

Menurut Adnan, karakteristik tersebut berpotensi membantu pekerjaan konstruksi di lokasi yang memiliki keterbatasan peralatan dan akses listrik.

“SCC ini istimewa, dia bisa memadat sendiri tanpa alat getar. Di pulau terisolir yang tidak ada listrik dan tenaga ahli, ini solusi percepatan,” ujarnya.

Meski demikian, penggunaan material laut masih membutuhkan pengujian menyeluruh. Kandungan klorida dalam air laut dapat memicu korosi tulangan, sementara sulfat dapat memengaruhi ketahanan beton.

Tim menggunakan analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD) untuk memahami interaksi semen, material laut, dan serat. Analisis itu juga digunakan untuk mengidentifikasi senyawa yang terbentuk akibat paparan sulfat dan klorida.

Prototipe beton tersebut ditargetkan memiliki kemampuan alir atau slump flow sekitar 500-700 milimeter agar dapat mengisi bekisting dengan baik. Untuk beton keras, tim menargetkan mutu K-350 atau lebih, disertai pengujian ketahanan terhadap lingkungan pesisir.

Pemanfaatan pasir dan air laut setempat juga diproyeksikan dapat mengurangi biaya logistik sekitar 30-40 persen. Angka tersebut masih merupakan potensi penghematan yang perlu divalidasi melalui pengembangan dan penerapan di lapangan.

Selain kuat tekan, penelitian mencakup pengujian tarik belah, lentur, daya lekat, serta potensi dan perkembangan korosi tulangan. Rangkaian pengujian ini menjadi dasar untuk menilai kelayakan dan ketahanan material sebelum digunakan lebih luas.

Pada tahap berikutnya, tim merencanakan pembangunan struktur percontohan berskala kecil di kawasan pesisir Parepare. Struktur tersebut akan digunakan untuk memantau kinerja beton dalam kondisi lingkungan sebenarnya.

Hasil pengujian laboratorium dan lapangan selanjutnya diharapkan menjadi bahan penyusunan pedoman teknis bagi kontraktor lokal serta rekomendasi bagi pemerintah daerah.

Adnan dan tim berharap inovasi tersebut dapat mendukung pembangunan dermaga, jembatan, dan infrastruktur dasar di wilayah kepulauan. Pengembangannya diarahkan untuk menghasilkan material konstruksi yang teruji, efisien, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat pesisir.