PORTAL — Yayasan Lembaga Pengkajian Pengembangan Ekonomi dan Masyarakat (YLP2EM) sekaku mitra BaKTI dalam Program INKLUSI, menggelar pertemuan penguatan Kelompok Konstituen (KK) Masagenae untuk penyusunan profil risiko dan rencana aksi adaptasi perubahan iklim Kelurahan Lumpue.
Kegiatan berlangsung di salah satu kafe lokal, Kamis (5/11/2026), dibuka Direktur YLP2EM, Ibrahim Fattah, didampingi perwakilan Kelurahan Lumpue dan Koordinator Program INKLUSI YLP2EM, Abd Samad Syam.
Pertemuan tersebut melibatkan staf kelurahan, LPMK, unsur TNI-Polri, perwakilan ketua RW/RT, kelompok konstituen, kelompok rentan, serta Tim INKLUSI.
Dalam arahannya, Ibrahim Fattah menekankan bahwa dampak perubahan iklim merupakan persoalan global yang perlu diantisipasi bersama.
Ia mencontohkan asap kebakaran hutan dan lahan yang dapat menyebar hingga jauh dari lokasi kejadian.
“Masyarakat perlu memahami cara mengantisipasi risiko sekaligus beradaptasi terhadap perubahan iklim. Warga juga diharapkan menjadi pelaku langsung dalam upaya mengurangi risiko dan dampaknya di lingkungan masing-masing,” katanya.
Penguatan kelompok konstituen menjadi bagian dari upaya membangun keterlibatan tersebut. Melalui penyusunan profil risiko, warga diajak mengenali ancaman di wilayahnya sebagai dasar merumuskan langkah adaptasi.
Sementara itu, perwakilan Kelurahan Lumpue menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Pertemuan ini dinilai penting dan bermanfaat bagi perangkat kelurahan, sekaligus mendukung pengembangan inovasi Sadar Bencana atau Satu Data Informasi Rawan Bencana.
Inovasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan informasi mengenai wilayah rawan bencana sebagai bahan dalam meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat kelurahan.
Pada sesi materi, Abd Samad Syam menjelaskan tiga jenis bahaya yang perlu dikenali dalam penyusunan profil risiko, yakni bahaya yang datang tiba-tiba, bahaya yang berlangsung perlahan, serta bahaya majemuk.
Bahaya yang datang tiba-tiba, seperti banjir bandang, angin kencang, longsor, dan gelombang tinggi, dapat menimbulkan kerusakan besar dalam waktu singkat.
Sementara bahaya yang berlangsung perlahan memiliki dampak yang terakumulasi, seperti peningkatan suhu, kenaikan muka air laut, serta masuknya air laut ke sumber air tawar.
Adapun bahaya majemuk terjadi ketika beberapa ancaman muncul bersamaan atau berurutan dan saling memperparah dampaknya.
“Kondisi ini membutuhkan kesiapan penanganan yang mempertimbangkan keterkaitan antarbahaya,” ungkapnya.
Dalam diskusi bersama, peserta mengidentifikasi berbagai kejadian dan dampak bencana yang dialami masyarakat Lumpue selama 10 tahun terakhir. Di antaranya banjir, kebakaran lahan, abrasi, angin kencang, dan longsor.
Berbagai kejadian tersebut dilaporkan mengakibatkan kerusakan lahan pertanian dan gagal panen, pohon tumbang, kerusakan rumah warga, infrastruktur, serta fasilitas umum. Peserta juga menyoroti polusi udara akibat asap dan sampah kiriman.
Dampaknya turut dirasakan pada penghidupan masyarakat. Kerusakan hasil pertanian dan sarana pendukung aktivitas warga disebut ikut menekan perekonomian keluarga.
Berdasarkan hasil diskusi peserta, banjir menjadi bencana dengan dampak paling parah di Lumpue, dengan jumlah keluarga terdampak mencapai 625 kepala keluarga (KK).
Identifikasi pengalaman warga tersebut menjadi bahan penyusunan profil risiko dan rencana aksi adaptasi perubahan iklim agar langkah yang dirumuskan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat Lumpue.

