PORTAL — Di sudut sebuah warung kopi di Kota Parepare, pagi itu aroma kopi hitam bercampur dengan obrolan hangat para pelanggan.
Dari percakapan sederhana itulah, MERACIK (Menyeduh Fakta, Merangkai Cerita Rakyat) menangkap keresahan yang semakin sering terdengar di tengah masyarakat, maraknya anak-anak di bawah umur yang mengemis di berbagai titik kota.
Seorang pelanggan, sebut saja Pak Onda, yang baru saja menikmati secangkir kopi membuka pembicaraan tentang pemandangan yang hampir setiap hari ia lihat.
Menurutnya, anak-anak pengemis kini tidak hanya ditemukan di persimpangan lampu merah, tetapi juga mendatangi warung-warung kopi hingga area gerbang keluar pelabuhan.
“Kalau dulu hanya sesekali terlihat, sekarang hampir setiap hari ada. Kadang masih sangat kecil, seharusnya mereka berada di sekolah atau bermain dengan teman-temannya,” ujar Onda yang diamini beberapa pengunjung lainnya.
Percakapan pun berkembang. Ada yang bercerita tentang anak-anak yang datang silih berganti di lokasi yang sama, seolah memiliki pola dan waktu tertentu.
Kondisi itu memunculkan dugaan di tengah masyarakat bahwa keberadaan para pengemis cilik bukan semata karena inisiatif sendiri, melainkan ada pihak yang diduga memanfaatkan untuk mendapatkan uang.
Fenomena ini menjadi perhatian karena anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain dan pendidikan justru terlihat menghabiskan waktu di jalanan.
Di sejumlah lampu merah Kota Parepare, pemandangan anak-anak yang menghampiri kendaraan saat lampu menyala merah masih mudah ditemukan.
“Kasihan melihat mereka. Saat anak-anak lain belajar atau bermain, mereka harus berdiri di bawah terik matahari atau hujan demi meminta belas kasihan pengguna jalan,” ungkap Suki, seorang pelanggan lainnya.
MERACIK mencatat, keberadaan pengemis cilik di jalan raya, kawasan warung kopi, hingga akses keluar pelabuhan semakin memunculkan pertanyaan mengenai perlindungan anak di Kota Parepare.
Jika benar terdapat pihak yang sengaja menyuruh atau memanfaatkan anak untuk mengemis, maka kondisi tersebut dapat mengarah pada dugaan eksploitasi anak yang membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait.
Peran pemerintah, aparat penegak hukum, dan instansi perlindungan anak dapat melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan hak-hak anak tetap terlindungi.
Sebab, di balik tangan-tangan kecil yang menengadah meminta recehan, tersimpan masa depan yang seharusnya tidak dipertaruhkan di jalanan.
Dari sebuah warung kopi pagi ini, obrolan sederhana itu menjadi pengingat bahwa persoalan anak di jalanan bukan sekadar pemandangan biasa.
Ia adalah cerita tentang masa kecil yang terancam hilang, dan tentang tanggung jawab bersama untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk tumbuh, belajar, dan bermain dengan layak.
