UMPAR Kembangkan Pupuk Arromang dari Limbah Pertanian

Keunggulan utama Pupuk Arromang terletak pada penerapan teknologi slow release. Berbeda dengan pupuk konvensional yang nutrisinya relatif mudah tercuci oleh air hujan, Arromang menggunakan lapisan bio-komposit alami yang dirancang untuk melepaskan nutrisi secara perlahan selama 30–40 hari sesuai fase pertumbuhan tanaman.

Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan menekan biaya hingga 30 persen. Kandungan mikroorganisme lokal unggul di dalam pupuk juga diarahkan untuk membantu memperbaiki struktur biologi tanah sehingga manfaat produk tidak hanya ditujukan pada tanaman, tetapi juga pada kondisi tanah.

Dalam pengembangan teknologinya, UMPAR melibatkan tim multidisiplin yang diketuai Dr. Sukmawati dari Program Studi Agroteknologi. Tim tersebut diperkuat Prof. Irdhatullah Rahim di bidang bioteknologi, Fatmawati, S.P., M.P. di bidang teknologi lingkungan, serta Bahruddin, S.E., M.Si. di bidang ekonomi pembangunan.

Kolaborasi lintas bidang tersebut dirancang agar inovasi tidak berhenti sebagai prototipe atau hasil penelitian akademik.

Pengembangannya juga mempertimbangkan aspek teknis, agronomis, ekonomi, dan peluang komersialisasi sehingga teknologi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna.

Saat ini, berdasarkan penjelasan Dr. Sukmawati, Pupuk Arromang telah memasuki tahap uji lapang terbatas pada kelompok tani binaan di Suppa, Kabupaten Pinrang, dan Barru.

Hasil awal yang disampaikan menunjukkan peningkatan produktivitas padi sebesar 18-22 persen, disertai kondisi tanah yang semakin membaik.

Dokumen pengembangan UMPAR juga mencatat bahwa Pupuk Arromang telah menjalani pengujian multilokasi pada tiga komoditas unggulan Sulawesi Selatan, yakni bawang merah di Kabupaten Enrekang, jagung di Kabupaten Soppeng, dan padi di Kabupaten Pinrang. Pengujian tersebut dilakukan untuk melihat konsistensi respons tanaman pada kondisi agroekosistem dan karakteristik usaha tani yang berbeda.