UMPAR Kembangkan Pupuk Arromang dari Limbah Pertanian

Pengujian lapangan tidak hanya digunakan untuk menilai pertumbuhan dan hasil tanaman. Kegiatan tersebut juga mempertemukan peneliti, petani, dan mitra dalam proses pengembangan teknologi agar formulasi pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan budidaya dan diterapkan secara realistis oleh pengguna.

Dari sisi hilirisasi, Sukmawati mengatakan riset Arromang tidak diarahkan hanya untuk menghasilkan produk. Transfer teknologi kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan kelompok tani juga menjadi bagian dari orientasi pengembangan agar masyarakat dapat memproduksi pupuk secara mandiri dan membangun kegiatan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

“Saya berharap riset ini tidak berhenti di jurnal saja. Saya ingin Pupuk Arromang menjadi gerakan mencintai tanah secara berkelanjutan dan menjadi Produk Unggulan Daerah Sulawesi Selatan,” kata Sukmawati.

Pengembangan Arromang juga memiliki dimensi ekonomi sirkular karena memanfaatkan biomassa dan limbah pertanian sebagai bahan bernilai tambah. UMPAR bersama PT Majjama Agro Industri mendorong pengembangan fasilitas produksi pupuk slow release sebagai jembatan antara hasil riset perguruan tinggi, kebutuhan industri, dan kebutuhan petani.

Dari aspek kekayaan intelektual, komposisi Pupuk Arromang telah memperoleh perlindungan paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Perlindungan tersebut menjadi salah satu fondasi dalam proses hilirisasi dan penguatan posisi teknologi menuju tahap komersialisasi.

Sementara itu, proses perizinan edar Pupuk Arromang untuk komersialisasi sedang berlangsung di Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi turut menopang pengembangan inovasi tersebut agar hasil penelitian dapat diarahkan menjadi produk yang digunakan lebih luas oleh sektor pertanian.

“Saya ingin Pupuk Arromang menjadi gerakan mencintai tanah secara berkelanjutan,” ujar Sukmawati.

Pernyataan tersebut menegaskan arah pengembangan Arromang yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada pemanfaatan limbah, keberlanjutan tanah, peningkatan manfaat ekonomi, dan penguatan kapasitas petani.

Melalui Pupuk Arromang, UMPAR berupaya menghubungkan kegiatan riset dengan kebutuhan nyata di sektor pertanian. Pemanfaatan jerami, sekam padi, kotoran ternak, dan biomassa lainnya menjadi bahan bernilai tambah diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan inovasi pertanian sekaligus mengurangi limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber polusi.

Ke depan, pengembangan Arromang diarahkan untuk melanjutkan proses validasi, transfer teknologi, serta tahapan perizinan menuju komersialisasi. Melalui hilirisasi tersebut, UMPAR dan mitra industri menargetkan hasil riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat berkembang menjadi teknologi yang memberikan manfaat bagi tanah, petani, dan perekonomian daerah.